Pengkajian Fisik terkait Sistem Sirkulasi pada Penderita Hipertensi

circulatory-system

I.Pengkajian Fisik sistem sirkulasi

Pengkajian fisik adalah mengukur tanda-tanda vital dan pengukuran lainnya menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pengkajian fidik sistem sirkulasi dapat berupa pengukuran tekanan darah maupun perhitungan nadi.

Inspeksi

Inspeksi adalah proses observasi. Perawat menginspeksi bagian tubuh untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang signifikan.

Perawat melakukan inspeksi dengan melihat penampilan klien dari luar.

Untuk menggunakan inspeksi secara efektif, perawat harus mengobservasi prinsip berikut ini:

1) Pastikan tersedianya pencahayaan yang baik.

2) Posisiskan bagian tubuh sedemikian rupa sehingga semua permukaan terlihat.

3) Inspeksi setiap area untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrian, posisi, dan abnormalitas.

4) Jika mungkin, bandingkan area yang diinspeksi dengan area yang sama di sisi tubuh yang berlawanan.

5) Gunakan lampu tambahan untuk menginspeksi rongga tubuh.

6) Jangan terburu-buru melakukan inspeksi dan beri perhatian pada hal-hal detil.

Palpasi

Palpasi dilakukan dengan cara meraba bagian tubuh yang ingin dikaji. Melalui palpasi tangan dapat dilakukan pengukuran yang lembut dan sensitif terhadap tanda fisik. Pada saat melakukan palpasi, klien harus diposisikan dengan nyaman karena ketegangan otot akan mengganggu keefektifan palpasi. Pada pengkajian terkait sistem sirkulasi, perawat dapat melakukan perhitungan jumlah denyut nadi klien per menit. Untuk menghitung denyut nadi per menit, hal yang perlu dilakukan perawat ialah menggunakan ketiga jari untuk menemukan arteri radialis di tangan. Biasanya arteri radialis terletak di dekat

Perkusi

Perkusi melibatkan pengetukan tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengevaluasi ukuran, batasan dan konsistensi organ-organ tubuh dan untuk menemukan adanya cairan pada rongga tubuh. Melalui perkusi, lokasi, ukuran dan densitas struktur dapat ditentukan.Perkusi membantu menentukan abnormalitas yang didapat dari pemeriksaan sinar-x atau pengkajian melalui auskultasi.

Terdapat dua macam perkusi yaitu perkusi langsung dan tidak langsung. Perkusi langsung melibatkan pengetukan permukaan tubuh secara langsung dengan satu atau dua jari. Sedangkan teknik tidak langsung dilakukan dengan menempatkan jari tengah tangan non-dominan di atas permukaan tubuh, dengan telapak tangan dan jari-jari tangan yang lain tidak berada di permukaan kulit. Perkusi menghasilkan lima jenis bunyi yaitu timpani, resonansi, hiperesonansi, pekak, dan flatness.

Auskultasi

Auskultasi adalah mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh dengan menggunakan alat bantu stetoskop. Untuk dapat mengauskultasi dengan benar, perawat harus mendengarkan bunyi di tempat tenang dan mendengarkan karakteristik dari bunyi tersebut.

Melalui auskultasi, perawat memerhatikan beberapa karakteristik bunyi berikut ini:

1) Frekuensi atau jumlah siklus gelombang per detik yang dihasilkan oleh benda yang bergetar. Semakin tinggi frekuensinya, semakin tinggi nada bunyi dan sebaliknya.

2) Kekerasan atau amplitudo gelombang bunyi. Bunyi terauskultasi digambarkan sebagai keras atau pelan.

3) Kualitas, atau bunyi-bunyian dengan frekuensi dan kekerasan yang sama dari sumber berbeda. Istilah seperti tiupan atau gemuruh menggambarkan kualitas bunyi.

4) Durasi, atau lamanya waktu bunyi itu berlangsung. Durasi bunyi adalah pendek, sedang dan panjang. Lapisan jaringan lunak mengendapkan durasi bunyi dari organ internal dalam.

II. Pemeriksaan Sistem Kardiovaskuler

Pemeriksaan Pembuluh Darah Perifer

1) Arteri perifer cara palpasi

Periksa arteri radialis dalam posisi pronasi dan fleksi di siku, jika perlu angkat sedikit, arteri karotis, arteri femoralis, arteri poplitea, arteri dorsalis pedis dan arteri posterior.

Nilai:

  • · Frekuensi, irama, ciri denyutan, isi nadi, keadaan pembuluh darah.
  • · Frekuensi: normal 60-90x per menit, agak meningkat pada anak-anak, wanita dalam keadaan berdiri, sedang makan, emosi dan lain-lain.

Abnormal:

Lebih dari 100x per menit- takikardia (pulpus frekuensi): pada demam, infeksi streptokokus, difteri, dan macam-macam penyakit jantung.

Kurang dari 60x per menit- bradikardi pada mikusudema, penyakit kuning, demam enteritis, tifoid, dsb.

Irama:

o Normal :

Teratur

Tak teratur misalnya aritmi sinus yang meningkat pada inspirasi dan menurun pada ekspirasi.

oAbnormal:

  • · Pulsus bigemini = tiap 2 denyut jantung dipisahkan sesamanya oleh waktu yang lama, karena satu siantara tiap denyut menghilang.
  • · Pulsus trigemini = tiap 3 denyut jantung dipisahkan oleh masa antara denyut nadi yang lama.
  • · Pulsus ekstra sistolik = interval yang memanjang dapat ditemukan juga jika terdapat satu denyut tambahan yang timbul lebih dini daripada denyut-denyutan lain yang menyusul.

Macam/ciri denyutan:

Tiap denyut nadi dilukiskan sebagai suatu gelombang yang terdiri dari bagian yang naik, puncak, dan turun.

  • · Pulsus anarkot, yakni denyut nadi yang lemah, mempunyai gelombang dengan puncak tumpul dan rendah, misalnya pasien stenosis aorta.
  • ·Pulsus seler, yakni denyut nadi yang seolah-olah meloncat tinggi, meningkat tinggi, dan menurun cepat sekali, misalnya pasa insulfisiensi aorta.
  • · Pulpus paradoks, yakni denyut nadi yang semakin lemah selama inspirasi bahkan menghilang sama sekali pada bagian akhir inspirasi untuk timbul kembali pada ekspirasi. Misalnya pada perikarditis konstraktiva, efusi perikard.
  • · Pulpus alternans, yakni nadi yang kuat dan lemah berganti-ganti, misalnya pada kerusakan otot jantung.

Isi nadi:

Pada setiap denyut nadi sejumlah darah melewati bagian tertentu dan jumlah darah itu dicerminkan oleh tinggi puncak gelombang nadi. Isi nadi mencerminkan tekanan nadi, yakni beda antara tekanan sistolik dan diastolik.

  • · Pulpus magnus- denyutan terasa mendorong jari yang melakukan palpasi, mialnya pada demam.
  • · Pulpus parvus- denyutan terasa lemah (gelombang nadi yang kecil), misalnya pada pendarahan, infark miokard.

Keadaan dinding arteri:

Dengan palpasi keadaan dinding arteri dapat ditafsirkan. Normal-kenyal, tetapi dapat mengeras pada sklerosis.

Mengukur tekanan darah dengan palpasi dan auskultasi:

Cara palpasi:

Hanya untuk mengukur tekanan sistolik. Manset tensimeter yang mengikat lengan dipompa dengan udara berangsur-angsur sampai denyut nadi pergelangan tangan tak teraba lagi. Kemudia tekanan didalam manset diturunkan. Amati tekanan dalam tensi meter. Waktu denyut nadi teraba kembali, kita baca tekanan dalam tensi meter, tekanan ini adalah tekanan sistolik.

Cara auskultasi:

Cara untuk mengukur tekanan sistolik dan diastolik.

  • · Manset tensimeter siikatkan pada lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri brakhialis pada permukaan ventral siku agak ke bawah manset tensimeter. Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan dalam tensimeter dinaikkan dengan memompa sampai di tidak terdengar lagi. Kemudian tekanan di dalam tensimeter diturunkan pelan-pelan.
  • · Pada saat denyut nadi mulai terdengar kembali, kita baca tekanan yang tercantum dalam tensimeter, tekanan ini adalah tekanan sistolik.
  • · Suara denyutan nadi selanjutnya menjadi agak keras dan tetap terdengar sekeras itu sampai suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali. Pada saat suara denyutan yang keras itu berubah menjadi lemah, kita baca lagi tekanan dalam tensimeter. Tekanan itu adalah tekanan diastolik.

Tekanan darah diukur waktu klien berbaring. Pada penderita hipertensi perlu juga diukur tekanan darah waktu berdiri. Kadang- kadang dijumpai masa bisu (auscultatory gap) yakni suatu masa dimana denyut nadi tak terdengar waktu tekanan tensimeter diturunkan. Misalnya denyut pertama terdengar pada tekanan 220 mmHg, suara denyut nadi berikutnya baru terdengar pada tekanan 150 mmHg. Jadi ada masa bisu tekanan antara 220-150 mmHg. Gejala ini sering ditemukan pada penderita hipertensi dan sebabnya belum diketahui.

Tekanan darah normal 100/60 – 140/90 mmHg. Bila tekanan darah diastol diatas 90 mmHg disebut hipertensi. Bila tekanan darah sistol diatas 150 mmHg pada usia di bawah 50 tahun disebut hipertensi. Tekanan darah sistol 160 – 170 mmHg pada usia diatas 50 tahun dianggap normal.

Denyut arteri di permukaan tubuh

Pada penyumbatan lubang cabang-cabang aorta dan pada aneurysma aorta, denyut arteri dapat sitemukan pada permukaan tubuh.

  • · Stenosis aorta: menimbulkan sirkulasi kolateral, sehingga denyut teraba dipermukaan tubuh.
  • · Aneurysma aorta: arteri subklavia membesar dan berdenyut jelas di klavikula.

2) Pemeriksaan vena

Terutama pada vena jugularis interna dan eksterna. Vena dada jika tampak jelas dan berliku-liku, berarti ada hambatan terhadap vena porta, vena kava atau ada proses yang menekan atrium kanan akibat tumor mediastinum atau aneurysma aorta desenden.

KEPUSTAKAAN

Potter, P.A.& Perry, A.G. (1997). Fundamental of nursing: concepts, process & practice. 4th ed. St. Louis: Mosby. (terj.hlm.158-159, 814-820)

Rokhaeni, H. et all. (2001). Buku ajar keperawatan kardiovaskuler. Jakarta: Bidang pendidikan dan pelatihan pusat kesehatan jantung dan darah nasional “harapan kita”.

About these ads

About zeep19

Mencari arti sebuah kehidupan.... Ingin lebih mendalami kehidupan di dunia maya... Gx muluk-muluk, tp terpenuhi semuanya:-D Yang terpenting c.. bisa memperbanyak tali silahturahmi...

Posted on 11/07/2009, in Sistem Sirkulasi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: